Kaidah Coaching Hubungan Industrial (15): Di Setiap Perilaku Terkandung Niat Mulia

Tanggal .

Otak manusia memilki sebuah program, yang outputnya adalah perilaku dan inputnya informasi panca indera. Program ini merupakan ciptaan sempurna Sang Maha Sempurna. Proses kerjanya semata-mata hanya mengolah input menjadi output, berdasarkan kemuliaan dan menghasilkan kemuliaan. Input informasi dari panca indera juga difilter sesuai dengan alam kebenaran internal yang ada. Sehingga setiap perilaku adalah benar dan mulia menurut dunia internal masing-masing individu pemilikinya.

Perilaku yang dianggap salah oleh kriteria saat ini, bisa jadi merupakan kebenaran berdasarkan kriteria sebelumnya. Kenapa bisa begitu? Karena manusia melihat belief dan value secara kontekstual. Tergatung tempat dan waktunya. Tergantung maksud dan alasannya. Belief adalah pemikiran-pemikiran yang telah dikonfirmasi menjadi keyakinan. Value adalah sesuatu hal yang dianggap penting dan bernilai.

Saat kita mengetahui seseorang berbuat kesalahan berdasarkan kriteria tertentu, cara bijaksana yang bisa kita lakukan adalah menanyakan maksud dan alasannya sampai ke ujung akarnya. Anda akan dapat melihat betapa seluruh maksud dan alasan yang disampaikan mengandung kebenaran-kebenaran. Anda dapat bereksperimen dengan hal ini. Tanyakan pada orang yang mencuri misalnya. Atau orang yang membenci orang lain. Anda akan mendengar rangkaian maksud dan alasan positif dibaliknya. Ujungnya adalah kemuliaan.

Lalu kenapa seseorang melakukan perilaku salah, walaupun maksud dan alasannya benar dan mulia? Persoalannya sederhana. Manusia umumnya memiliki belief dan value lebih dari satu. Bahkan mungkin sangat banyak. Ada belief dan value yang saling mendukung, saling bertentangan dan saling melemahkan. Di saat-saat tertentu, manusia tidak sempat menyelaraskannya. Dan akhirnya mensetiai belief dan value tertentu, sambil pada saat yang sama menomorduakan belief dan value yang lain.

Hal yang dapat kita lakukan untuk membantu seseorang yang berperilaku salah adalah dengan menanyakan belief & value yang dimiliki.

Apakah ada yang bertentangan?

Diantara yang bertentangan, mana yang paling penting?

Apakah perilaku yang dipilih telah sesuai dan selaras dengan semua belief & value yang dimiliki? Apakah ada perilaku yang bertentangan dengan satu atau lebih belief & value yang dimiliki?

Bila ada pertentangan, perilaku baru apa yang dapat dipilih?

Perilaku terbaik apa yang membuat seluruh belief dan value yang dimiliki setuju dan menerima. Dengan melakukan hal ini, kita memfasilitasi seseorang untuk mereorganisasi seluruh belief & value serta perilaku-perilakunya.

Dalam dunia hubungan industrial, contoh-contoh aplikasi kaidah ini adalah:

  1. Ketika melihat perilaku yang tidak baik, segera tanyakan apa maksud dan alasan dibaliknya. Lakukan eksplorasi sampai ke belief dan value akarnya. Lakukan pembuktian terbalik untuk membantu penyelarasan antara belief & value dengan perilaku terbaiknya.
  2. Saat terjadi perselisihan, yakini bahwa seluruh maksud dan alasan adalah mulia. Yangperlu dilakukan masing-masing pihak adalah saling membantu menyelaraskannya.
  3. Dalam setiap komunikasi yang dilakukan, selalu tanyakan maksud dan alasan sampai ujung akar belief dan valuenya.